Salah
satu hal yang saya dapatkan dari perkuliahan saya dengan Bapak Moh Aniq KHB
S.Pd.,M.Hum,dalam perkuliahan Filsafat Pendidikan. Salah satu yang akan saya
kutip dari materi yang diberikan dalam pembuka dalam tatap muka kali ini adalah
“Mengatur dirinya sendiri”.
Pada
pertemuan yang lalu telah disampaikan tentang kemerdekaan yanag ada 3 macam.
Salah satunya yaitu mengatur dirinya sendiri, Sejatinya manusia bisa mengatur
tetapi belum bisa teratur. Manusia juga harus pandai-pandainya mengolah dirinya
sendiri. Manusia dapat mengatur pola aturan makan, makan 1 hari ada 3 kali dan
ada beberapa orang makan yang hanya 2 kali sehari karena mereka lebih tahu
tentang kondisi yang mereka butuhkan karena kita bebas memilih pilihan kita
sendiri, contoh lainnya yaitu kita dapat memilih menjadi orang yang merokok ataupun
tidak merokok tetapi kita jika menjadi orang yang tidak merokok tidak boleh
membuli karena itu adalah pilihan atau hak dari orang yang merokok.
Bahasa
jawa memiliki bahasa yang unik dan beragam mempunyai banyak istilah yang
berbeda dengan bahasa indonesia. Contohnya “sakit perut” dan dalam bahasa
jawanya artinya banyak istilahnya yaitu suduk’en, begah, sebah, senep, serta
mules. Apa itu mules ? ada pertanyaan apakah mules sebuah penyakit? Mules ssebuah
penyakit melainkan efek dari apa yang kita makan seperticabai, cuka, merica
atau makan-makanan yang pedas.
Mengolala
diri ini yaitu selalu terkait dengan pendidikan karakter dimana hanya dibatasi
dengan batasan formalisme tetapi bapak pendidikan kita ( ki hajar dewantara)
menghadirkan kesadaran diri sebagai manusia yang benar-benar manusia. Alasan
sederhana dari Ki Hajar Dewantara yaitu manusia adalah titah Tuhan atau yang
disebut “Manungso Titah ing Gusti” (Manusia sebagai Manifestasi Tuhan). Gusti =
bagus ing ati. Gusti adalah dzat yang tidak dapat dibayangkan seperti apa. Tuhan
memiliki sifat penyayang,penyayang,sombong dan lain-lainnya namun sifat yang
dimiliki Tuhan itu berbeda dengan sifat manusia.
Berbicara tentang ilmu Allah, ilmu Allah melahirkan atau menciptakan
realitas, Allah yang maha ilmu, allah yang maha mengetahui, dan menciptakan
realitas / jagat dan seisinya. Kemudian realitas itu dipelajari oleh manusia
menjadi ilmu tetapi bukan ilmu allah, namun
ilmu alam yang biasa kita pelajari di Fisika.
Ada pertanyaan, mengapa ada
seseorang dipanggil dengan sebutan “kyai, syekh, Tengku, Ustadz dan Habib” dan
panggilan lainnya, karena mereka dipanggil berdasarkan tingkatan strata ilmu. Pada
zamaan dahulu sebutan “Syekh” karena usianya yang sudah tua atau sespuh dan
perlu dihormati oleh orang yang lebih muda.
Sekian
reportase yang saya buat tanpa mengurangi rasa hormat Bapak Moh Aniq KHB
S.Pd,.M.Hum, Saya ucapkan permohonan maaf apabila menyinggung dalam penulisan
diatas. Terima kasih atas kesempatannya untuk membaca tulisan saya.
Link kelas 7A :
1.
Ismaul Amalia (15120007)
2. Devi Endah Prastiwi 15120441
3.
Nur tri atika (15120040)
4. Meiyani Lutfil Khoiriyah 15120450
5.
Martiya Zulfa Risty (15120039)
6. Anisa Rona Soraya 15120447
7. Dewi Krisdiyanti
8. Nailul Fauzziyah (15120405)
9. Dyah Saraswati (15120364)
10. Atik Budiarti 15120010
11. Ibnu Mas'ud (15120218)
12. Fadila Nurfi A (15120322)
13. Khafidzoh Asfihani 15120008
14. Susilo bayu
15. Sukma Rudi Nugroho
16. Intan Nur Fatikha Mulya
17. febydwiangrainy.
18. Hadiah hana putri 15120471
19. Riskha Khoirul Ulya 15120219
20. Dhimas Oeka Aji W 15120013
21. Neneng Zuliasih 15120016
http://flsftpnddknnasional.blogspot.com/2018/10/diri-sendiri.html
22.https://nurohdifallah15120497.blogspot.com/2018/10/pembelajaran-mata-kuliah-filsafat.html
24.
Ahmad Haris Hidayat 15120334
25. Eko nur fatoni/15120020.
26. Bagas Panur.p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar